Pertama dalam 30 Tahun, Israel-Lebanon Berdialog Demi Perdamaian
Israel dan Lebanon menggelar pembicaraan tingkat tinggi pertama mereka dalam lebih dari 30 tahun. Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat (AS) menyebut pertemuan ini sebagai “kemenangan bagi akal sehat,” meski para pejabat tetap meragukan peluang berakhirnya perang melawan kelompok Hizbullah dalam waktu dekat.
Duta besar kedua negara bertemu di Washington di bawah mediasi AS untuk membahas langkah-langkah menuju perundingan langsung. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, dalam pernyataannya pada Selasa (14/4) menyebut pertemuan tersebut sebagai “diskusi yang produktif,” meskipun belum ada tanggal pasti untuk putaran berikutnya.
AS menyambut baik fakta bahwa kedua pemerintah akhirnya bertemu tatap muka untuk pertama kalinya sejak tahun 1993. Namun, harapan agar Israel meredakan kampanye militernya masih tipis, mengingat Hizbullah tidak terlibat dalam perundingan ini.
Dalam pernyataan resminya, Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh Moawad menyebut pembicaraan tersebut konstruktif. Ia mendesak adanya gencatan senjata segera, pemulangan warga sipil yang mengungsi, serta langkah nyata untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang melanda negaranya.

Di sisi lain, pertempuran di Lebanon berisiko merusak upaya Presiden AS Donald Trump untuk meredakan konflik paralel dengan Iran, penyokong utama Hizbullah. Namun, Israel justru meningkatkan intensitas serangannya sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua minggu pada 7 April lalu.
“Ini adalah kemenangan bagi akal sehat, tanggung jawab, dan perdamaian, karena pemimpin Hizbullah kemarin telah memperingatkan pemerintah Lebanon untuk tidak berpartisipasi dalam pembicaraan ini,” ujar Duta Besar Israel Yechiel Leiter kepada wartawan di Washington. “Ini adalah awal dari pertempuran yang sangat kuat dan konsisten melawan Hizbullah.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa solusi tidak akan tercapai dalam hitungan jam, namun pembicaraan ini dapat menjadi “kerangka kerja” bagi keamanan jangka panjang. “Ini adalah peluang bersejarah untuk mencapai jawaban permanen atas pengaruh Hizbullah selama 20 hingga 30 tahun terakhir di bagian dunia ini,” tegas Rubio.
Konflik ini memanas setelah Israel menginvasi Lebanon bulan lalu sebagai respons atas serangan roket Hizbullah. Serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Lebanon dan menyebabkan setidaknya 1 juta orang mengungsi.
Israel menyatakan niatnya untuk mengambil alih sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan melarang lebih dari 600.000 penduduk kembali ke rumah mereka. Sementara itu, serangan Hizbullah telah menewaskan 13 tentara dan dua warga sipil Israel, serta memaksa penduduk di wilayah utara Israel terus berlindung di bunker.
“Kini ada peluang untuk mencapai solusi berkelanjutan, yang memang diinginkan Lebanon,” kata Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Senin malam, merujuk pada pembicaraan dengan Israel. “Namun ini tidak bisa sepihak. Israel harus merespons seruan Lebanon, Arab, dan internasional untuk menghentikan agresinya terhadap Lebanon.”
Serangan Hizbullah ke Israel sebelumnya mengakhiri gencatan senjata rapuh antara kelompok tersebut dan negara Yahudi yang dimulai pada akhir 2024. Pemerintah Lebanon berjanji melucuti senjata Hizbullah sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, namun belum terealisasi.
Dalam negosiasi terbaru ini, Lebanon menginginkan gencatan senjata sebelum membahas isu jangka panjang. Namun Israel menolak menghentikan serangan terhadap Hizbullah dan menuntut kelompok tersebut dilucuti senjatanya.









