IHSG Turun 5% Picu Pembekuan Sementara Perdagangan
Selang lima tahun berlalu pasca puncak pandemi covid-19 tahun 2020 silam, IHSG kembali alami koreksi lebih dari 5%. Bahkan sempat turun lebih dari 7% setelah Sesi 2 bursa dibuka. Terakhir kali melihat momen langka seperti ini terjadi pada 10 September, masih pada tahun yang sama ketika trading halt terjadi lima kali di bulan Maret 2020.

Trading halt yang terjadi pada 2020 sangat jelas penyebabnya. Sementara yang terjadi kali ini sungguh tidak jelas. Tidak ada hal baru yang memicu IHSG terjerembab hingga terkena trading halt. Menurut kami hal ini lebih karena akumulasi sejumlah rumor dan kekhawatiran masyarakat awam yang dibiarkan berkembang liar. Kemudian diperparah oleh analisis suram dan gelap ala “pakar ekonomi” dadakan seperti para influencer yang diamini ribuan pengikutnya.
Beberapa rumor yang beredar liar di market diantaranya adalah:
– Kabar mundurnya Sri Mulyani Indrawati dan Airlangga Hartarto. Kabar ini awalnya hanyalah merupakan pendapat seorang pengamat politik yang diangkat oleh media online pinggiran. Ketika kabarnya mulai membesar dan mulai diangkat oleh media mainstream, Sri Mulyani pun hanya melempar senyum menanggapi hal ini. Persepsi pasar pun makin liar sebelum akhirnya dengan tergopoh-gopoh memberikan klarifikasi bahwa kabar tersebut sama sekali tidak benar. Meskipun demikian Sri Mulyani tidak memberikan kalimat tegas dengan berkata, misalnya “saya tidak akan mundur sebelum masa jabatan saya berakhir” dan memilih kalimat yang lebih bersayap “saya ada disini, berdiri dan tidak mundur”.
– Penerimaan pajak hingga akhir Februari anjlok. Seperti diketahui, Kementerian keuangan melaporkan realisasi penerimaan pajak dalam dua bulan pertama 2025 sebesar Rp187.8 triliun atau turun 30% dibanding periode sama tahun 2024. Memang benar ada faktor kemunduran ekonomi terkait hal ini seperti turunnya harga sejumlah komoditas ekspor unggulan dan daya beli yang cenderung melemah. Namun faktor terbesar dari turunnya realisasi penerimaan pajak lebih karena adanya perubahan sistem adminitrasi perpajakan dengan penerapan sistem core tax yang bermasalah. Juga karena adanya lonjakan pembayaran resitusi pajak hingga 93% yang nilainya mencapai Rp111 triliun.
– Indonesia mencatat deflasi pertama sejak tahun 2000 di Februari 2025. Tingkat harga konsumen Indonesia pada Februari 2025 turun 0.09% (deflasi) vs konsensus pasar inflasi 0.41%. Ini merupakan deflasi pertama sejak Maret 2000 yang lebih disebabkan karena dampak diskon tarif listrik sebesar 50% pada Januari-Februari 2025. Diskon tarif listrik ini telah berakhir dan Indonesia diprediksi akan kembali mencatat inflasi pada Maret 2025.

Koreksi besar yang terjadi hari ini diawali dengan anjloknya beberapa saham penentu indeks seperti DCII, BREN, TPIA dan BRPT. Indeks yang turun dalam akibat koreksi saham-saham tersebut kemudian merangsang psikologis loss aversion investor atau keengganan untuk mengalami kerugian yang makin membesar. Mereka kemudian mencari informasi yang memperkuat ketakutan akan kejatuhan pasar, padahal sebenarnya mereka tidak yakin akan kebenarannya (confirmation bias).
Namun memang kondisi bursa saham domestik bukannya tanpa masalah. Aksi jual investor asing masih terus berlanjut setelah beberapa house besar seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs menurunkan rating rekomendasinya di Indonesia dan lebih prefer untuk memperbesar alokasi investasinya ke China. Hari ini inevstor asing tercatat membukukan net sell sebesar Rp2,49 triliun yang terkonsentrasi masih pada saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, BBNI dan BBRI.










