Setelah Jepang dan China, Amerika Kini Kembali Berpotensi Sedot Dollar Dari Indonesia
Belum hilang rasa terkejut dan panik investor saat Bank of Japan menaikkan suku bunganya. Kemudian People Bank of China yang membanjiri ekonominya dengan beragam stimulus. Dimana kedua event ini, terutama China, telah memicu arus keluar dana investasi asing dari pasar finansial Indonesia. Kini Amerika Serikat berpotensi menyedot kembali dana investasi yang sempat masuk sangat deras ke Indonesia menjelang dan pasca penurunan Fed Fund Rate. Apa sebabnya?
Akhir pekan lalu Amerika baru saja mengumumkan data pasar tenaga kerjanya yang terbaru. Datanya sungguh diluar dugaan. Penyerapan tenaga kerja baru selama bulan September yang masuk dalam kategori nonfarm payrolls naik menjadi 254.000 dari 159.000 sebelumnya. Pasar memprediksi nonfarm payrolls turun menjadi 130.000. Kemudian tingkat pengangguran pun turun menjadi 4,1% dari 4,2% sebelumnya. Pasar juga salah memprediksi yang mengira bakal naik menjadi 4,3%. Lalu rata-rata upah pekerja juga naik 4% year-on-year, diatas prediksi pasar yang mengira naik 3,7%.
Perekonomian Amerika seperti langsung terstimulasi dengan pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin. Indikasinya sudah terlihat ketika yield US treasury justru menguat setelah FOMC meeting. Mata uang US dollar juga menguat terhadap major currencies, termasuk rupiah. Nilai tukar rupiah pun kembali terperosok menjadi 15.485 per dollar. Padahal sempat menguat hingga 15.060 per dollar tidak lama setelah FOMC meeting.
Dampaknya terhadap IHSG belum terlihat, namun barometer IDX ini sudah babak belur duluan karena faktor stimulus China. Dana investasi asing begitu masif keluar dari saham-saham Indonesia untuk beralih ke bursa saham China. Investor asing terpantau melakukan net sell sebesar Rp9,5 triliun dan IHSG pun turun 414 poin atau 5,23%. Respon pasar terhadap perkembangan terbaru dari Amerika akan kita ketahui setelah perdagangan dibuka Senin (7/10).
Prediksi kami investor asing akan melanjutkan aksi jualnya dan IHSG kembali terkoreksi. Kekhawatiran investor kini bukan lagi semata faktor China, tapi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed yang meredup. Jika daya beli rakyat Amerika menguat, prospek inflasi pun kembali meningkat. Naiknya harga-harga komoditas energi akibat faktor China dan meningginya tensi geopolitik Timur Tengah kini memperoleh dukungan baru dari Amerika. Pertanyaan penting berikutnya adalah, apakah penguatan pasar tenaga kerja Amerika ini akan berlanjut?
Membaiknya prospek ekonomi China dan Amerika sejatinya adalah kabar positif. Jika pertumbuhan ekonomi global dapat rebound, dampaknya tentu akan positif terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan, termasuk Indonesia. Masalahnya dalam jangka pendek ini arus modal asing akan bergerak menuju negara yang paling prospektif dan dipenuhi stimulus. Hingga fenomena ini berakhir, pasar finansial domestik yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap modal asing pun masih rentan terkena dampak negatifnya.










