Data AS dan Ketegangan di Laut Merah Kerek Harga Minyak hingga 3%
Harga minyak terkerek hingga 3% pada Kamis (25/1/2024), ke level tertinggi sejak awal Desember 2023. Setelah data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dari perkiraan pada kuartal IV-2023 dan ketegangan di Laut Merah terus mengganggu perdagangan global.
Dikutip dari Reuters, Brent berjangka naik US$ 2,39 (2,99%) menjadi US$ 82,43 per barel pada pukul 19.02 GMT. Sedangkan Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,27 (3%) menjadi US$ 77,36.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di koridor Laut Merah masih menjadi fokus.
Maersk mengatakan ledakan memaksa dua kapal yang dioperasikan oleh anak perusahaannya di AS yang membawa pasokan militer AS mundur ketika mereka transit di Selat Bab al-Mandab di lepas pantai Yaman, ditemani oleh Angkatan Laut AS.
Sementara itu, pemimpin Houthi Yaman mengatakan kelompoknya akan terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel sampai bantuan mencapai rakyat Palestina di Gaza.
Joshua Mahony, kepala analis pasar di Scope Markets, mengatakan, pihaknya menilai pasar energi akhirnya menyadari kemungkinan besar bahwa gangguan rantai pasokan ini akan berlangsung selama berbulan-bulan.
“Prospek solusi militer untuk memastikan perjalanan yang aman tampaknya tidak mungkin terjadi,” tambahnya.
Bob Yawger, direktur energi berjangka di Mizuho, mengatakan, serangan pesawat tak berawak Ukraina terhadap kilang minyak di Rusia selatan juga memicu kekhawatiran pasokan.
Di AS, penurunan persediaan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan pada minggu lalu, terutama karena cuaca dingin yang ekstrem, juga mendukung harga. Persediaan AS turun 9,2 juta barel pada minggu lalu, menurut Administrasi Informasi Energi.
“Data pada Kamis menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal keempat, sebuah indikator permintaan positif,” kata Yawger.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari ekspektasi pemulihan perekonomian China setelah bank sentral mengumumkan pengurangan besar cadangan bank pada Rabu (24/1/2024).
Namun, di tempat lain, prospek suku bunga tinggi yang berkelanjutan masih membayangi.
Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis mempertahankan suku bunga acuan tertingginya sebesar 4%, tidak memberikan petunjuk bahwa para pembuat kebijakan sedang mempertimbangkan pelonggaran kebijakan.










