The Fed Kerek Suku Bunga ke 3,9 Persen di Tengah Inflasi yang Belum Jinak

Source:

Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, kembali menaikkan suku bunga acuan pada Kamis, 17 September 2026 WIB. Keputusan ini menjadi kenaikan pertama sejak 2023 dan diambil ketika masyarakat Amerika Serikat sedang menghadapi mahalnya harga kebutuhan pokok, bensin, dan hunian.

Kenaikan sebesar 25 basis poin tersebut membawa suku bunga acuan The Fed ke kisaran 3,9 persen. Dampaknya tidak berhenti di ruang rapat bank sentral. Dalam jangka waktu tertentu, biaya pinjaman rumah, kredit kendaraan, dan kartu kredit berpotensi ikut meningkat.

The Fed juga memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga berikutnya masih mungkin dilakukan. Dalam proyeksi kuartalan, komite penentu kebijakan suku bunga memperkirakan tingkat bunga dapat kembali dinaikkan hingga sekitar 4,1 persen.

Keputusan tersebut datang hanya tujuh pekan sebelum pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat. Persoalan keterjangkauan hidup pun semakin mengambil posisi penting dalam perdebatan politik domestik Negeri Paman Sam.

Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekonomi Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda kembali menguat sejak bank sentral mempertahankan suku bunga pada akhir Juli. Namun, inflasi masih berada jauh di atas target 2 persen dan belum memperlihatkan tanda-tanda penurunan yang meyakinkan.

“Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” ujar Warsh, dikutip dari AP, Kamis, 17 September 2026.

Menurut dia, The Fed harus memastikan inflasi yang mendasari perekonomian benar-benar bergerak menuju target dengan kecepatan yang memadai. Karena standar tersebut belum terpenuhi, Komite Pasar Terbuka Federal memutuskan menaikkan suku bunga.

Pernyataan Warsh menunjukkan bahwa bank sentral AS belum mau buru-buru memberi napas lega kepada pasar. Preston Caldwell, kepala ekonom AS di Morningstar, menilai sikap keras Warsh terhadap inflasi mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan dalam rapat-rapat berikutnya.

“Pernyataan keras Warsh mengenai inflasi dalam konferensi pers setelah rapat menunjukkan bahwa dia mungkin mendorong kenaikan suku bunga yang lebih tinggi dalam rapat mendatang,” kata Caldwell.

Warsh juga menyebut konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran ikut memengaruhi keputusan bank sentral. Ketegangan tersebut mendorong harga bensin naik dan memperbesar tekanan inflasi. “Tidak ada cara untuk bersembunyi dari titik-titik panas di seluruh dunia,” ujar Warsh.

Menurut dia, bank sentral negara lain juga mulai menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap gejolak global dan kenaikan harga energi. Bank Sentral Eropa telah menaikkan suku bunga acuannya pada pekan sebelumnya, sedangkan Bank of Japan diperkirakan mengambil langkah serupa pada 18 September.

The Fed dijadwalkan kembali menggelar rapat pada akhir Oktober. Sebagian besar ekonom memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada rapat tersebut karena waktunya hanya sekitar sepekan sebelum pemilihan umum paruh waktu.

Also Read:   Saham GOTO Ambruk Lagi Usai Petinggi Ungkap Rencana Jual Saham

Namun, pelaku pasar kini melihat kenaikan suku bunga pada Desember sebagai kemungkinan yang hampir pasti. Perkiraan tersebut tercermin dalam harga kontrak berjangka suku bunga. Sinyal kenaikan lanjutan juga terlihat dari imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor dua tahun. Pada Rabu malam, imbal hasilnya naik menjadi 4,74 persen dari 4,67 persen.

Meski demikian, arah kebijakan tersebut masih dapat berubah jika data inflasi dalam beberapa bulan mendatang mulai menunjukkan pendinginan.

Inflasi belum Jinak

Sejak memimpin The Fed pada Mei, Warsh berulang kali menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi. Ia menyatakan kebijakan bank sentral akan ditentukan oleh data, bukan tekanan politik.

Kenaikan suku bunga terbaru sekaligus menandai perubahan arah bagi Warsh. Ketika namanya dipertimbangkan Presiden Donald Trump untuk memimpin The Fed, Warsh sebelumnya sering mengisyaratkan bahwa suku bunga acuan dapat diturunkan.

Sikap tersebut sejalan dengan desakan Trump yang berkali-kali meminta biaya pinjaman diturunkan. Bahkan pada April, ketika pencalonan Warsh sedang dibahas Komite Perbankan Senat, Trump mengatakan akan kecewa jika Warsh tidak memangkas suku bunga.

Namun, pada hari yang sama, Warsh mengatakan kepada komite bahwa dirinya tidak pernah berjanji kepada Trump untuk memangkas suku bunga. Ia menegaskan akan bertindak independen sebagai ketua The Fed.

Kini, gangguan akibat perang Iran justru membuat situasi semakin rumit. Harga bensin rata-rata telah meningkat lebih dari 7 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. Kenaikan itu berpotensi merembet ke berbagai sektor ekonomi. Laporan inflasi terbaru juga menunjukkan harga inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, kembali mengalami percepatan pada Agustus.

Berdasarkan ukuran inflasi yang menjadi acuan utama The Fed, inflasi pada Juli mencapai 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut meningkat dari 2,3 persen pada April 2025, sebelum Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran. Inflasi inti berada di level 3,3 persen pada Juli, naik dari 3 persen sebelum perang Iran dan masih jauh di atas target The Fed sebesar 2 persen.

Seluruh pembuat kebijakan The Fed mendukung kenaikan suku bunga terbaru. Kondisi ini berbeda dengan rapat akhir Juli, ketika bank sentral mempertahankan suku bunga dan tiga pejabat berbeda pendapat dengan menginginkan kenaikan.

Dari 18 pejabat The Fed yang menyerahkan proyeksi pertumbuhan dan suku bunga, sebanyak 16 orang memperkirakan setidaknya masih akan ada satu kenaikan suku bunga pada tahun ini. Empat di antaranya bahkan mendukung dua kali kenaikan tambahan.

Also Read:   Laba Gudang Garam (GGRM) Melonjak 2.440% di Semester I-2026

Pada hari yang sama, pemerintah AS melaporkan penjualan ritel meningkat 1,2 persen pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya. Data tersebut menunjukkan konsumen masih berbelanja dalam tingkat yang cukup kuat, meskipun sejumlah survei sentimen memperlihatkan masyarakat tetap pesimistis terhadap kondisi ekonomi.

Belanja yang masih kuat mengindikasikan bahwa tingkat suku bunga saat ini belum sepenuhnya menekan aktivitas ekonomi dan belum cukup untuk mendinginkan inflasi. “Meski ketidakpastian masih tinggi, antara lain akibat perkembangan geopolitik, belanja domestik tetap tangguh,” kata The Fed.

Pernyataan tersebut kemungkinan merujuk pada konsumsi rumah tangga yang tetap berjalan serta investasi besar-besaran perusahaan teknologi dalam pusat data kecerdasan buatan.

Tekanan inflasi juga tidak hanya berasal dari harga bensin. Investasi di sektor kecerdasan buatan telah mendorong kenaikan harga cip komputer dan berbagai perangkat elektronik. Tarif impor juga masih berpotensi meningkatkan harga sejumlah barang, termasuk peralatan rumah tangga yang mengalami kenaikan pada bulan lalu.

Trump sebelumnya secara terbuka mengkritik pendahulu Warsh, Jerome Powell, karena dianggap terlalu lambat memangkas suku bunga. Departemen Kehakiman bahkan sempat membuka penyelidikan kriminal terhadap Powell terkait kesaksiannya di hadapan Kongres tahun lalu, meskipun penyelidikan tersebut akhirnya dihentikan.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan reaksi Trump terhadap kenaikan suku bunga terbaru, Warsh memilih tidak membuka percakapan pribadinya dengan presiden. “Saya tidak punya apa pun untuk Anda mengenai pembicaraan dengan presiden,” ujar Warsh.

Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga melalui unggahan di media sosial pada Rabu malam. Namun, ia tidak secara langsung mengomentari keputusan The Fed. Sementara itu, penasihat ekonomi utama Trump, Kevin Hassett, mengatakan presiden kemungkinan tidak akan senang dengan kenaikan suku bunga tersebut.

“Saya yakin dia tidak akan terlalu senang dengan hal itu, tetapi dia akan membela independensi Kevin Warsh di atas segalanya,” kata Hassett dalam wawancara dengan Fox News.

Warsh juga disebut memiliki perlindungan politik tersendiri. Mertuanya, Ronald Lauder, merupakan teman Trump sekaligus miliarder yang pernah menjadi donor bagi kampanye politiknya.

Tetapi kedekatan personal dan tekanan politik tetap tidak mengubah masalah utama yang sedang dihadapi The Fed. Inflasi belum jinak, biaya energi meningkat, perang menambah ketidakpastian, sementara masyarakat harus menanggung ongkos hidup yang semakin mahal.

Di tengah semua itu, suku bunga kembali naik. Bagi pasar keuangan, kebijakan tersebut mungkin dibaca sebagai upaya menjaga kredibilitas bank sentral. Bagi rumah tangga yang sedang mencicil rumah, kendaraan, dan kartu kredit, keputusan itu bisa terasa seperti tagihan tambahan yang datang tanpa diundang.

Recommended Articles

Top Portfolio Widget