Inilah Calon Perusahaan Nikel Terkaya, Labanya Bakal Tembus Rp 10 Triliun
PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diprediksi menjadi perusahaan nikel terkaya di Tanah Air. Pada 2027, laba bersih Vale Indonesia diprediksi mencapai US$ 700 juta atau menembus Rp 10 triliun dibandingkan estimasi tahun ini sebesar US$ 270 juta.
Berdasarkan riset JP Morgan, yang dikutip pada Sabtu (28/10/2023), Vale Indonesia pada 2027 diprediksi menyumbang 8% produksi nikel dunia, yang ditopang sejumlah proyek pertumbuhan.
“INCO (Vale Indonesia) adalah saham pilihan kami di sektor logam Asean. Kami percaya CAGR laba bersih INCO mencapai 28% sepanjang 2023-2026, yang kini belum diapresiasi oleh pasar,” tulis JP Morgan.
JP Morgan menilai, sumber daya nikel INCO kini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Jumlah ini akan terus bertambah begitu tambang Bahodopi dan Pomalaa dimasukkan dalam perhitungan cadangan dan sumber daya perseroan.
Adapun penjualan bijih nikel ke proyek Bahadopi diprediksi mencapai 3,5 juta ton saprolit, karena kapasitas tambang hanya cukup di angka itu. Sisanya sekitar 2 juta ton kemungkinan diambil dari tambang-tambang di sekitar proyek. “Kami menaikkan proyeksi pasokan nikel limonit ke proyek Pomalaa menjadi 18 juta ton dari 15 juta ton,” sebut JP Morgan.
Sebelumnya, Head of Commucation Vale Indonesia Bayu Aji mengatakan, perseroan terus mengebut penyelesaian tiga proyek agar rampung pada 2026, sehingga meningkatkan kapasitas produksi perseroan.
Kapasitas HPAL Pomalaa, Sulawesi Tenggara, mencapai 120 ribu ton dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP), sedangkan feni Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah, 73 ribu ton nikel per tahun.
Adapun kapasitas HPAL yang mengolah nikel limonit Blok Sorowako, Sulawesi Selatan, ditargetkan mencapai 60 ribu ton nikel dalam bentuk MHP per tahun. MHP perlu diolah menjadi kobalt dan nikel sulfat untuk menjadi precursor katoda baterai kendaraan listrik (EV).
Pada 25 Agustus 2023, emiten berkode saham INCO menandatangani perjanjian kerja sama definitif dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd dan PT Huali Nickel Indonesia (Huali) untuk pembangunan fasilitas HPAL di Sorowako. Proyek tersebut akan mengolah bijih nikel berjenis limonit Blok Sorowako, sedangkan pabrik HPAL akan berlokasi di Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Target Harga Saham INCO
JP Morgan menyematkan rekomendasi overweight terhadap saham INCO dengan target harga Rp 7.150 hingga Desember 2024. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan target awal Rp 8.000.
Perusahaan asing tersebut hanya memperhitungkan dua bisnis dalam menetapkan target harga dan valuasi saham INCO, yakni pabrik nikel matte di Sorowako berkapasitas 75 ribu ton per tahun yang sudah berjalan dan penjualan bijih nikel ke proyek Bahodopi dan Pomalaa.
“Kami percaya saham INCO akan berkisar di harga itu dalam 2-3 kuartal mendatang, hingga kemajuan proyek Bahodopi dan Pomalaa mulai kelihatan. Kami menyarankan investor untuk menambah saham ini pada periode tersebut,” tulis JP Morgan.
Ada dua pertimbangan bagi JP Morgan. Pertama, cadangan INCO bakal naik dari posisi saat ini 330 juta ton, seiring dimulainya penjualan bijih nikel ke Bahodopi dan Pomalaa. Kedua, CAGR laba bersih INCO ditaksir mencapai 28% hingga 2026.
JP Morgan tidak melihat kemungkinan INCO mengeksekusi call option di proyek high pressure leach acid (HPAL) Pomalaa. Yang pasti, INCO akan memasok 18 juta ton nikel limonit ke proyek itu.
Sementara itu, merujuk riset Verdhana Sekuritas, INCO berencana menggarap tiga megaproyek nikel yang menelan investasi US$ 9 miliar. Pertama, proyek high pressure acid leach (HPAL) di Blok Pomalaa bersama Huayou dan Ford. Kedua, proyek feronikel Bahodopi dengan Xinhai dan Tisco. Terakhir, proyek HPAL Sorowako bersama Huayou.










