G7 Bahas Pelepasan Cadangan, Harga Minyak Dunia Turun Usai Dekati US$120 per Barel
Harga minyak dunia kembali terkoreksi mendekati US$100 per barel pada Senin (9/3/2026). Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak melonjak tajam hampir mencapai US$120 per barel.
Dilansir dari Bloomberg, pada pukul 14.25 waktu Singapura, harga minyak mentah Brent Crude diperdagangkan sekitar US$108 per barel atau naik sekitar 17%. Namun, angka itu jauh lebih rendah dibandingkan puncak awal sesi yang sempat menyentuh US$119,50 per barel.
Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate juga mengalami pelemahan setelah reli tajam sebelumnya.
Adapun, penurunan harga minyak menyusul kabar bahwa negara-negara G7 tengah membahas pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi. Rencana itu diusulkan demi meredam gejolak pasar di tengah perang di Timur Tengah.
Laporan Financial Times menyebutkan para menteri keuangan dari negara-negara G7 akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama pada Senin ini. Langkah tersebut disebut akan dikoordinasikan dengan International Energy Agency untuk menstabilkan pasar energi global.
Tiga negara anggota G7, termasuk AS, dilaporkan telah menyatakan dukungan terhadap pelepasan cadangan minyak. Sejumlah pejabat AS bahkan menilai pelepasan bersama sebesar 300 juta hingga 400 juta barel atau sekitar 30% dari total cadangan sekitar 1,2 miliar barel.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut menanggapi lonjakan harga minyak. Dia menilai kenaikan harga dalam jangka pendek merupakan harga kecil yang harus dibayar demi stabilitas global.
Trump juga menyebut harga energi akan turun dengan cepat setelah ancaman program nuklir Iran berhasil dihentikan.
Di AS, harga bensin eceran telah melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2024. Hal ini berpotensi menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu tahun ini.
Sementara itu, Head of Commodities Strategy di ING Groep NV Warren Patterson menilai pasar kini mulai menyadari bahwa gangguan pasokan energi kemungkinan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
“Awalnya pasar berharap gangguan ini hanya sementara. Namun sekarang terlihat bahwa dampaknya bisa berlangsung lebih lama,” ujarnya.
Menurut Patterson, selama aliran minyak melalui Selat Hormuz belum kembali normal, harga minyak berpotensi terus meningkat.
Senada, Analis JPMorgan Chase & Co. juga memperingatkan potensi penutupan produksi minyak di Timur Tengah dapat meluas hingga lebih dari 4 juta barel per hari pada akhir pekan depan. Hal ini seiring penuhnya kapasitas penyimpanan dan berlanjutnya hambatan distribusi.
Secara keseluruhan, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak global sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memberikan dampak signifikan pada pasar energi dunia.
Di sisi lain, lonjakan harga energi mulai merembet ke berbagai negara. Pemerintah China dilaporkan meminta kilang utama menangguhkan ekspor solar dan bensin.
Sementara itu, Korea Selatan tengah meninjau kemungkinan penerapan batas harga minyak untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.










