BRMS targetkan operasi tambang emas bawah tanah Poboya mulai 2027

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mempercepat pembangunan tambang emas bawah tanah di kawasan Poboya, Palu, Sulawesi Tengah.

Proyek ini digadang sebagai game changer Perseroan, karena memiliki kadar emas tinggi, rata-rata 4,9 gram per ton bijih, jauh di atas kadar rata-rata tambang terbuka BRMS yang sekitar 1,5 gram per ton.

Direktur BRMS Herwin Wahyu Hidayat menjelaskan proyek Poboya ditargetkan mulai beroperasi pada semester II 2027.

“Dengan kandungan itu, produksi akan meningkat signifikan pada akhir 2027 hingga awal 2028,” ujarnya dalam paparan publik, Rabu (5/11).

Saat ini, BRMS telah menunjuk PT MacMahon Indonesia, anak usaha MacMahon Holdings Limited yang tercatat di bursa Australia (ASX), sebagai kontraktor untuk kegiatan penambangan terbuka dan konstruksi tambang bawah tanah di Poboya.

Menurut laporan konsultan tambang AMC Consultant Australia per Juli 2024 yang mengacu pada standar JORC, dengan cadangan bijih sebesar 34 juta ton dan kadar emas rata-rata 3,2 gram per ton, total kandungan logam mulia BRMS di Poboya diperkirakan mencapai 3,5 juta troi ons.

Also Read:   Jreng.. Harga Gas 'Murah' Industri Bakal Dievaluasi?

Perseroan juga memiliki izin operasi produksi selama 30 tahun hingga 2050, memastikan keberlanjutan proyek jangka panjang di wilayah tersebut.

Proyek ini sudah menyelesaikan pembangunan portal utama atau pintu masuk tambang berukuran 5×6 meter dan terowongan (decline tunnel) sepanjang lebih dari 300 meter.

Selain itu, Perseroan juga tengah menuntaskan pembangunan ventilasi udara dan shaft sink guna mendukung sistem sirkulasi udara bawah tanah.

Tahap penggalian dan pelapisan shaft ditargetkan rampung pertengahan 2027 agar tambang bisa beroperasi pada semester kedua tahun tersebut.

Herwin menambahkan bahwa BRMS juga terus meningkatkan kapasitas dua pabrik pengolahan emas berteknologi carbon in leach (CIL) yang telah beroperasi di Poboya.

Pabrik pertama kini berkapasitas 2.000 ton bijih per hari, sementara pabrik kedua mencapai 4.500 ton per hari.

“Kami memandang tambang bawah tanah Poboya sebagai tonggak penting yang akan membawa BRMS ke level produksi baru, dengan efisiensi tinggi dan kadar bijih yang jauh lebih kaya,” ujar Herwin.

Sebagai catatan, sejak beroperasi secara komersial, produksi emas BRMS meningkat pesat, dari 2.200 ons pada 2020 menjadi 64.000 ons pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 68.000–72.000 ons hingga akhir 2025. (DK/ZH)

Also Read:   Here's why 7% mortgage rates are so much worse for buyers now than 20 years ago

Recommended Articles

Top Portfolio Widget