BRMS Garap Tambang Tembaga Baru di Gorontalo, Produksi Usai 2028
Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Herwin Hidayat mengatakan tambang tembaga—yang dikelola oleh anak usahanya yakni PT Gorontalo Minerals — di Gorontalo saat ini sedang dalam fase eksplorasi dan bakal mulai berproduksi usai 2028.
Saat ini, jumlah cadangan yang ada sekitar 100 juta ton bijih dan sumber daya yang ada sekitar 400 juta ton bijih. Adapun, kadar tembaganya sekitar 0,5%—0,7%.
Namun, informasi cadangan dan sumber daya tersebut yang masih harus dieksplorasi lebih jauh untuk dapat ditingkatkan lagi ke depannya.
“Memang masih butuh waktu, jadi untuk produksinya sendiri masih mungkin nanti setelah 2028 karena fokus kami sekarang selain untuk produksi yang dari tambang emas di Palu juga untuk yang tembaga di Gorontalo masih kita eksplorasi lebih lanjut,” ujar Herwin kepada Bloomberg Technoz, Jumat (11/10/2024).
Untuk tambang tembaga dan emas yang ada di Gorontalo, Herwin mengatakan, saat ini masih eksplorasi lebih jauh dan juga akan melakukan kegiatan pengeboran untuk meningkatkan jumlah cadangan dan sumber daya yang ada saat ini.
Herwin mengatakan PT Gorontalo Minerals—yang mengelola tambang tembaga dan emas — sudah memiliki izin produksi dan konstruksi dari pemerintah untuk mengelola konsesi tambang di area seluas hampir 25,000 hektare di kabupaten Bone Bolango, Gorontalo sampai 2052.
Herwin mengatakan saat ini perseroan masih fokus untuk meningkatkan produksi dari tambang emas di Palu, baik dari penambangan terbuka maupun penambangan bawah tanah.
“Anak usaha kami yang mengelola tambang emas di Palu tersebut adalah PT Citra Palu Minerals,” ujarnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan hasil tambahan 2—3 calon tambang tembaga baru bisa diolah melalui pabrik pemurnian atau smelter katoda tembaga di dalam negeri, seperti milik PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT).
Dengan demikian, produk-produk turunan dari konsentrat tembaga yang diolah itu bisa menciptakan nilai tambah, menambah pembukaan lapangan kerja, dan menjadi sumber pendapatan negara; khususnya di tengah tren kenaikan harga tembaga.
Selain itu, Bahlil mengatakan, daya saing Indonesia bakal meningkat dengan adanya tambahan tambang tembaga baru.
“Freeport dan Amman itu dahulu kan kita tidak pernah tahu berapa cadangannya. Dengan smelter yang ada, kita pakai dan setiap izin usaha pertambangan khusus [IUPK] yang punya tambang dia wajib membangun smelter, ya kita bisa mengelola dalam negeri. […] Jadi saya pikir oke lah,” ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2024).
Informasi ihwal penambahan tambang tembaga baru disampaikan oleh Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesia Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau, yang mengatakan Indonesia dalam waktu dekat bakal memiliki 2—3 tambang tembaga baru yang beroperasi dalam 5 tahun ke depan.
Rachmat mengatakan, dengan 2—3 tambang tembaga tersebut, Indonesia berpotensi meningkatkan pangsa atau share di pasar tembaga dunia menjadi 10% dari saat ini pada level 3%—5%.
“Saat ini Indonesia kalau tidak salah sekitar 3% sampai 5% share untuk tembaga dunia, tetapi kita masih ada beberapa tambang besar yang mungkin akan operasi dalam 5 tahun ke depan dengan potensi produksi dari tambahan 2—3 tambang yang nanti akan beroperasi,” ujar Rachmat dalam agenda BNI Investor Daily Summit 2024, Selasa (8/10/2024).
Adapun, Rachmat mengatakan potensi penambahan 2—3 tambang tembaga baru terjadi karena saat ini 3 wilayah dengan cadangan tembaga besar sudah memasuki tahap eksplorasi akhir, yakni; di Tujuh Bukit di Banyuwangi, di Sumbawa milik Sumbawa Timur Mining, dan di Sulawesi milik Gorontalo Minerals.
Indonesia sendiri sudah memiliki salah satu tambang tembaga terbesar di dunia, yaitu Grasberg, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia (PTFI). Tambang Gua Blok Grasberg adalah tambang bawah tanah (underground) yang terletak di Papua, Indonesia.
Tambang ini dimiliki oleh holding badan usaha milik negara (BUMN) sektor pertambangan PT Mineral Indusrti Indonesia (MIND ID), yang diperkirakan menghasilkan 1,7 miliar pon tembaga per 2023. Selain MIND ID, tambang ini juga dimiliki oleh anak usaha Freeport-McMoRan yang memegang 49,8% saham.










