Astra (ASII) Tunjukkan Resiliensi, Harga Saham Murah
PT Astra International Tbk (ASII) membuktikan bahwa perseroan memiliki resiliensi atau ketangguhan, meski kondisi ekonomi global tidak menentu. Sementara itu, di lantai bursa, harga saham ASII sedang murah.
Astra membukukan kenaikan pendapatan sebesar 9% (yoy) menjadi Rp 240,9 triliun hingga kuartal III-2023 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 221,4 triliun. Laba bersih juga meningkat 10% (yoy) menjadi Rp 25,7 triliun dari Rp 23,3 triliun, dengan sedikit peningkatan margin laba bersih menjadi 10,7% dari 10,5%.
“Itu meskipun terdapat penyesuaian negatif sebesar Rp 378 miliar terhadap fair value investasi di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL),” tulis analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer dalam risetnya.
Menurut dia, segmen bisnis otomotif Astra terus menunjukkan kinerja yang lebih baik dari pasar otomotif Indonesia secara keseluruhan. Perseroan membukukan peningkatan 1,9% (yoy) pada unit mobil yang terjual, yaitu mencapai 421 ribu dari 413 ribu, meskipun total penjualan mobil domestik turun tipis 0,4% menjadi 755 ribu dari 758 ribu.
Penjualan sepeda motor oleh emiten berkode saham ASII tersebut juga jauh melampaui kinerja pasar secara keseluruhan, dengan mencatatkan peningkatan 37% pada unit yang terjual, yaitu menjadi 3,7 juta dari 2,7 juta. Adapun total unit sepeda motor yang terjual di Indonesia hanya meningkat 30,6% menjadi 4,7 juta dari 3,6 juta.
“Kinerja yang kuat ini terjadi, meskipun tingkat suku bunga pada 2023 lebih tinggi dibandingkan 2022. Sebagian besar pembelian otomotif di Indonesia menggunakan fasilitas kredit,” jelas Axell.
Sementara itu, pendapatan bersih ASII di segmen alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (heavy equipment, mining, construction, & energy/HEMCE) turun tipis 1% selama periode Januari-September 2023 menjadi Rp 9,4 triliun dari Rp 9,5 triliun.
“Alasan utama dari penurunan tersebut adalah perlambatan sektor pertambangan pada 2023 akibat merosotnya harga sejumlah komoditas secara keseluruhan,” sebut dia.
Kondisi tersebut tak hanya berdampak pada penjualan alat berat (unit terjual turun 4% yoy), tetapi juga pada unit bisnis batu bara yang membukukan penurunan pendapatan, meskipun volume penjualan naik 10% (yoy). Volume penjualan emas juga menjadi penyebab lain dari penurunan kinerja segmen HEMCE, karena turun 32% (yoy).
Rekomendasi & Target Harga ASII
Di sisi lain, sebagian besar segmen bisnis ASII mencatatkan pertumbuhan positif hingga kuartal III-2023, dengan kenaikan laba bersih sebesar 33% pada segmen jasa keuangan, 98% pada segmen infrastruktur & logistik, 5% pada segmen properti, dan 96% pada segmen TI.
Segmen agribisnis ASII adalah satu-satunya unit bisnis yang mencatatkan penurunan kinerja yang cukup besar, dengan membukukan penurunan laba bersih sebesar 34% (yoy). Sebagian besar disebabkan oleh penurunan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
Dengan berbagai faktor yang ada, NH Korindo Sekuritas merekomendasikan beli saham ASII dengan target harga Rp 6.900. Target harga tersebut mencerminkan rasio forward PE sebesar 8,39 kali, setara dengan SD – 1 selama 5 tahun.
“Saham ASII terbilang undervalued dengan harga yang saat ini diperdagangkan pada rasio forward PE sebesar 7 kali. Risikonya adalah pemilihan umum di Indonesia, berlanjutnya penurunan harga komoditas, dan perubahan kebijakan PPnBM,” pungkas Axell.










