Bank Indonesia Sebut Cadev Turun Demi Jaga Nilai Tukar Rupiah

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan penurunan cadangan devisa nasional disebabkan oleh langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Untuk diketahui, posisi cadangan devisa nasional menjadi US$148,7 miliar (setara Rp2.488 triliun) per September 2025, turun dibandingkan akhir tahun 2024 yang mencapai US$155,7 miliar (Rp2.605 triliun).

“[Penurunan ini] antara lain karena untuk stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Perry menambahkan bahwa intervensi kini lebih banyak dilakukan melalui mekanisme non-delivery forward (NDF), baik di pasar luar negeri maupun domestik, sementara intervensi secara spot atau tunai dilakukan dalam porsi yang lebih kecil.

Di sisi lain, dampak ketidakpastian pasar keuangan global juga telah mendorong keluarnya sebagian aliran modal asing dari pasar keuangan domestik, khususnya dari saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Meski begitu, dalam beberapa waktu terakhir mulai terlihat arus masuk kembali dana asing, terutama ke instrumen SBN. “Itu langkah-langkah yang memerlukan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang itu menunjukkan kenapa cadangan divisa kami itu menurun,” jelas dia.

Also Read:   Regulators seize Signature Bank in third-largest US bank failure

Sebagai catatan saja, pada Jumat (7/11/2025), BI mengumumkan cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober berada di US$149,9 miliar. Naik US$1,2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain bersumber dari penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi,” sebut keterangan BI.

Terdapat beberapa obligasi dalam mata uang asing yang diterbitkan pemerintah bulan lalu. Pada 23 Oktober, pemerintah menerbitkan obligasi dalam mata uang yuan China senilai CNY 6 miliar. Ini adalah penerbitan dimsum bond perdana Indonesia.

Kemudian pada 10 Oktober, pemerintah juga menerbitkan surat utang dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan euro. Lalu pada awal Oktober, terdapat penerbitan obligasi dolar AS senilai US$2,54 miliar.

Posisi cadangan devisa akhir Oktober 2025 setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Also Read:   Kinerja Positif, Sinar Eka (ERAL) Guyur Dividen Rp51,87 Miliar

Recommended Articles

Top Portfolio Widget